Breaking News:

Berita Malang

Simulasi Masuk Sekolah di Kota Malang, Siswa Wajib Diantar Orangtua hingga Pergantian Kelas

Simulasi siswa masuk sekolah di Kota Malang rencananya akan dimulai pada pekan depan.

TRIBUNMADURA.COM/MOHAMMAD RIFKY EDGAR
Wali Kota Malang, Sutiaji menyebut, Kota Malang bisa kembali menerapkan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB apabila masyarakat tidak disiplin. 

TRIBUNMADURA.COM, MALANG - Pemkot Malang tengah menggagas rencana simulasi masuk sekolah pada masa pandemi Covid-19.

Rencananya, simulasi masuk sekolah di Kota Malang akan dimulai pada pekan depan.

Wali Kota Malang, Sutiaji menyampaikan, penerapan masuk sekolah nanti dihitung berdasarkan hari dan kelas.

Musala Jadi Lokasi Berbuat Dosa, Pemuda Sampang Curi Ponsel Guru Ngaji saat Mengajar Para Santri

Tulungagung Dipilih Jadi Lokasi Pelaksanaan Tes SKB CPNS 2019 dari 4 Daerah, Simak Jadwal Detailnya

Pemkab Bangkalan Pesan 500 Ribu Masker untuk Masyarakat, Sukseskan Program Jatim Bermasker

"Misalkan untuk SD yang masuk hari ini kelas 1 dan kelas 6, besok kelas 2 dan kelas 5 dan besoknya lagi kelas dan kelas 4," terangnya, Jumat (7/8/2020).

Sutiaji menyampaikan, bahwa aturan sistem tersebut hampir sama dengan skema aturan ganjil genap.

Nantinya siswa yang akan masuk dalam simulasi tersebut juga harus diantar oleh orang tuanya masing-masing.

"Masuknya separuh-separuh. Dan harus diantar oleh orang tuanya sendiri," ucapnya.

Sutiaji memiliki alasan tersendiri kenapa dirinya sepakat apabila siswa dipersilahkan masuk sekolah.

Dia menyampaikan, bahwa ukuran sebenarnya bukan berkaitan dengan zona merah atau zona hijau suatu daerah.

Akan tetapi berkaitan dengan pendidikan karakter anak yang nantinya bisa berimbas kepada orang tua.

Modus Pemanggilan, Guru TK Dilecehkan Oknum Kepala Sekolah, Baju Guru TK Sampai Robek di Ketiak

Tingkatkan Kualitas Tembakau di Sampang, Dinas Pertanian Siapkan Anggaran Rp 1,2 miliar untuk Petani

Dia menjelaskan, apabila siswa nanti masuk ke sekolah, tingkat kedisiplinan akan lebih tertata.

Hal itu berbeda ketika anak-anak saat berada di dalam rumah yang jarang memakai masker.

"Seperti di luar negeri, saat pandemi ini lembaga pendidikan dibuka diawal. Sedangkan tempat ibadah terakhir,"

"Karena harapannya ada karakter yang terbentuk. Agar menjadi kebiasaan, seperti rajin mencuci tangan dan memakai masker," tandasnya.

Penulis: Mohammad Rifky Edgar
Editor: Ayu Mufidah Kartika Sari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved