Berita Pamekasan

ASPRIM Angkat Bicara Soal Fasilitas Wisata Bukit Bintang Pamekasan Dibakar, Beri Saran Ini ke Pemkab

Pegiat pariwisata di Madura ikut buka suara setelah adanya pembakaran fasilitas Bukit Bintang di Desa Larangan Badung, Pamekasan, Senin (5/10/2020).

TRIBUNMADURA.COM/KUSWANTO FERDIAN
Ketua Asosiasi Pariwisata Madura (ASPRIM), Ahmad Vicky Faisal (kiri kaos merah) saat menemui pengelola wisata Bukit Bintang usai dibakar, Selasa (6/10/2020). 

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Kuswanto Ferdian

TRIBUNMADURA.COM, PAMEKASAN - Pegiat pariwisata di Madura ikut buka suara setelah adanya pembakaran fasilitas Bukit Bintang di Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan, Madura, Senin (5/10/2020) kemarin.

Fasilitas Bukit Bintang itu dibakar oleh sejumlah massa ketika melakukan aksi demonstrasi ke tempat wisata yang baru beroperasi beberapa bulan tersebut.

Ketua Asosiasi Pariwisata Madura (ASPRIM), Ahmad Vicky Faisal mengaku sangat memprihatinkan dengan peristiwa pembakaran Bukit Bintang tersebut.

Pengakuan Duda Tua di Bojonegoro Setubuhi Gadis 14 Tahun Usai Cekoki Arak: Cuma Sekali Saya Lakukan

Gadis 14 Tahun di Bojonegoro Disetubuhi Kakek Duda, Berawal dari Arak, Berakhir Pilu di Rumah Pelaku

Lama Menduda, Kakek Bojonegoro Setubuhi Gadis 14 Tahun, Minuman Arak Buat Korban Tak Sadarkan Diri

Menurut dia, pengelola sudah membangun dengan susah payah, dan sudah mengeluarkan banyak biaya.

"Ketika masyarakat sekitar sudah merasakan manfaat ekonominya dengan berjualan dan jadi tukang parkir serta ikut mengelola harus merasakan dampak dari ke anarkisan oknum yang melakukan pembakaran," kata Ahmad Vicky Faisal kepada TribunMadura.com, Selasa (6/10/2020).

Menurut pria yang akrab disapa Vicky ini wisata Bukit Bintang itu sebuah karya masyarakat setempat untuk menciptakan sebuah karya, harus peras otak, peras keringat, dan peras biaya.

Ia menyarankan, setelah adanya permasalahan ini, Pemkab Pamekasan harus hadir, dan harus memberikan jalan keluar.

"Energi habis untuk urusan kayak gini. Sedangkan di tempat lain Pemda yang menghampar tikar untuk membangun potensi wisata di daerahnya," ujarnya.

Kata Vicky, sering munculnya polemik pariwisata di Pamekasan karena belum punya regulasi yang jelas tentang izin berdirinya usaha wisata.

Termasuk, peraturan Bupati (Perbup) operasional usaha pariwisata.

Diduga Sopir Kurang Konsentrasi, Mobil ASN di Kabupaten Madiun Oleng ke Kiri hingga Masuk Selokan

Pemilik Akun FB Allby Madura yang Menghina Kiai Ponpes Karang Durin Serahkan Diri Ke Polres Sampang

Kode Keras Rizky Billar Ajak Lesty Kejora Menikah, Tapi Tak Digubris Sang Pedangdut: Masih Bocil Ya?

"Misal (jika harus islami) akhirnya pelaku usaha kan bingung, mau dijalankan seperti apa, jika islami yang seperti apa," bebernya.

Saran Vicky, jika pariwisata Pamekasan harus islami, maka Pemkab perlu merancang regulasi.

Jika tidak ada regulasi, maka pelaku usaha pariwisata bingung, mau membuat maka akan serba salah.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved