Bahaya Konsumsi Mi Instan Terlalu Sering, Bisa Timbulkan Penyakit Kronis hingga Obesitas
Mi instan dikenal sebagai makanan yang bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan.
TRIBUNMADURA.COM - Mi instan menjadi sajian favorit bagi masyarakat Indonesia, terutama anak kos.
Selain rasanya nikmat, mi instan tergolong sebagai makanan dengan harga terjangkau,
Namun, mi instan juga dikenal sebagai makanan yang bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan.
Karenanya, mi instan tidak baik apabila dikonsumsi setiap hari dalam porsi yang banyak .
Baca juga: Harga Cabai Rawit di Pasar Wonokromo Surabaya Berangsur Turun, Penjualan Masih Lesu, Ini Sebabnya
Melansir data dari Healthline, mi instan memiliki kandungan sodium dan MSG yang tinggi.
Menurut ahli gizi dari University of Vermont, Rachel Johnson, asupan sodium yang terlalu tinggi bisa meningkatkan tekanan darah.
Pasalnya, sodium bisa menahan cairan di dalam tubuh yang menciptakan beban tambahan pada jantung.
"Terlalu banyak sodium juga akan meningkatkan risiko stroke, gagal jantung, osteoporosis, kanker perut, dan penyakit ginjal," tambah Vermont.
Serupa degan sodium, terlalu banyak asupan MSG juga memiliki efek samping, terutama bagi mereka yang sensitif terhadap zat tersebut.
Baca juga: Tak Mau Ditangkap, Maling Motor asal Pasuruan Bacok Polisi di Kota Malang, Berakhir Kakinya Ditembak
Baca juga: Joo Dan Tae Curiga Cheon Seo Jin Masih Cinta Ha Yoon Chul, Simak Bocoran The Penthouse 2 Episode 3
MSG bisa memicu sakit kepala, memperburuk asma, menyebabkan nyeri dada atau jantung berdebar-debar.
Nutrisi mi instan Mi instan juga diklaim sebagai makanan yang tak sehat karena kandungan nutrisinya yang rendah.
Sebagian besar mi instan cenderung rendah kalori, serat, dan protein.
Sedangkan jumlah lemak, karbohidrat, dan natrium di dalamnya sangat tinggi.
Dalam sebungkus mi instan biasanya mengandung nutrisi berikut:
- 188 gram kalori 27 gram
- karbohidrat 7 gram
- lemak total 3 gram
- lemak jenuh 4 gram
- protein 0,9 gram
- serat 861 miligram natrium
- Tiamin: 43 persen tiamin dari rekomendasi harian
- 12 persen folat dari rekomendasi harian
- 11 persen mangan dari rekomendasi harian
- 10 persen besi dari rekomendasi harian
- 9 persen niacin dari rekomendasi harian
- 7 persen dari riboflavin.
Baca juga: Momen Spesial, Sugiri Sancoko Dilantik sebagai Bupati Ponorogo Tepat di Hari Ulang Tahunnya
Baca juga: Gaji Tenaga Outsourcing Disperdagin Kota Blitar Belum Dibayar 2 Bulan, Komisi II Minta Klarifikasi
Karena nutrisinya yang rendah, terlalu sering mengonsumsi mi instan bisa memicu pola makan yang buruk.
Riset 2014 yang dilaporkan oleh laman Healthline membuktikan, mengonsumsi mi instan terlalu sering bisa menyebabkan kekurangan nutrisi tertentu.
Riset dilakukan dengan meneliti pola makan 10.711 orang dewasa.
Dalam riset tersebut, peneliti menemukan, mengonsumsi mi instan setidaknya dua kali seminggu bisa meningkatkan risiko sindrom metabolik.
Kondisi ini bisa meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan stroke.
Mengonsumsi mi instan berlebihan juga menyebabkan penurunan asupan protein, kalsium, vitamin C, fosfor, zat besi, niasin, dan vitamin A.
Selain itu, mengonsumsi mi instan bisa menyebabkan penurunan kadar vitamin D.
Kondisi ini bisa memicu obesitas dan berbagai penyakit kronis.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Meski Nikmat dan Murah, Ini Alasan Mi Instan Berbahaya bagi Kesehatan"
P2MI: MSG Bahan Tambahan Pangan yang Aman di Konsumsi
Menanggapi artikel diatas, Doddy Ketua Persatuan Pabrik Monosodium Glutamate dan Glumatic Acid Indonesia (P2MI) menyatakan, bahwa tulisan tentang MSG (Monosodium Glutamat) sebagai bahan tambahan pangan yang menyebabkan berat badan naik drastis adalah tidak benar.
Karena berdasarkan fakta-fakta ilmiah dan regulasi terkait keamanan pangan, MSG dimasukkan sebagai bahan tambahan pangan yang aman di konsumsi dengan pemakaian secukupnya dan tidak menyebabkan dampak buruk/berbahaya lainnya bagi kesehatan manusia.
"MSG sebagai Bahan Tambahan Pangan juga sudah mendapat izin edar dari BPOM," tegas Doddy, dalam tulisan hak jawab, yang dikirim ke redaksi TribunMadura.com.
Doddy lantas menyampaikan fakta-fakta lain tentang MSG sebagai berikut:
1. Bahan Tambahan Pangan Penyedap Rasa (MSG) adalah terbuat dari tetes tebu bukan zat kimia (sintetik) atau zat aditif dan MSG dibuat melalui proses fermentasi.
2. Kandungan zat dalam Bahan Tambahan Pangan Penyedap Rasa (MSG) ada 3 yaitu: Asam Glutamat 78%, Natrium 12% dan Air 10% sebagai zat utama adalah Asam Glutamat yang merupakan Asam Amino yang tidak berbeda dengan Asam Glutamat yang terkandung dalam makanan sehari-hari seperti: Tomat, Susu, Keju dsb.
3. Bahan Tambahan Pangan Penyedap Rasa (MSG) mudah larut dan dapat di metabolisme dengan baik dalam tubuh.
4. Bahan Tambahan Pangan Penyedap Rasa (MSG) sudah diakui keamanannya oleh beberapa badan dunia yang berkompeten dalam bidang makanan seperti: JECFA (Terdiri dari FAO dan WHO), FDA dan juga oleh Kementerian Kesehatan serta Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
5. Bahan Tambahan Pangan Penyedap Rasa (MSG) adalah salah satu Bahan Tambahan Pangan Penguat Rasa yang paling aman dan diizinkan untuk dikonsumsi berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 033 tahun 2012 dengan takaran penggunaan Secukupnya.
6. Keterkaitan antara konsumsi makanan ber-MSG dengan obesitas telah dilakukan oleh beberapa peneliti, seperti: 1) Ka He, dkk (2008), menyimpulkan MSG mungkin menimbulkan kenaikan berat badan, akan tetapi dia juga menyebutkan perlu studi lebih lanjut terkait mekanismenya.
Hasil penelitian dari Ka He tersebut diragukan oleh para peneliti seperti Ivan Aroujo dari Univ. Yale dan kesimpulan Ka He tersebut terbantahkan oleh studi-studi berikutnya: 2) Zumin Shi, dkk (2010), dengan studi selama 5 tahun di daerah Jiang Shu –Cina, konsumsi MSG tidak terkait dengan kegemukan, 3) Hien Vhu Thi, dkk (2012), dengan studi di 3 kota di Vietnam, membuktikan tidak ada kaitan antara konsumsi makanan ber-MSG dengan kegemukan, 4) Terakhir, review terhadap clinical report yang dilakukan Kazmi, dkk dimana hasil literatur menunjukkan tidak ada adverse effect antara MSG dan obesitas, hasil ini sudah dipublikasi di International Journal of Food Properties tahun 2017.
7. Berdasarkan penjelasan pada angka 1 s/d 6 di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Bahan Tambahan Pangan Penyedap Rasa (MSG) adalah Aman dikonsumsi.