Berita Sampang

Pilih Obati Sendiri Hewan Ternak, Peternak Sapi di Sidoarjo Suntikkan Injectamin dan Penstrep-400

Karena sejauh ini memang belum ada vaksin atau obat yang tersedia untuk mengobati dan mencegah penularan penyakit hewan

Penulis: M Taufik | Editor: Samsul Arifin
istimewa/TribunMadura.com
Peternak sapi di Sidoarjo memilih mengobati sendiri hewan ternaknya dengan suntikan Penstrep-400 dan injectamin 

TRIBUNMADURA.COM, SIDOARJO – Peternak sapi di Sidoarjo memilih melakukan pengobatan sendiri terhadap hewan ternaknya yang terkena penyakit mulut dan kuku (PMK). 

Karena sejauh ini memang belum ada vaksin atau obat yang tersedia untuk mengobati dan mencegah penularan penyakit hewan yang menyerang hewan ternak itu.

Seperti yang dilakukan beberapa peternak di Kawasan Taman, Sidoarjo. Mereka melakukan upaya swadaya pengobatan dengan cara menyuntikkan vitamin dan anitibiotik kepada hewan ternak mereka. 

“Selain itu, kami juga bersihkan kendang setiap hari. Supaya hewan ternak bisa tetap sehat,” kata Muhajir, peternak di Desa Ngelol, Kecamatan Taman, Sidoarjo.

Baca juga: Antipasi Penularan Virus PMK pada Hewan Ternak, Polres Pamekasan Awasi Ketat Pemotongan Hewan di RPH

Kumpulan Berita Lainnya seputar Sidoarjo

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunMadura.com

Diceritakan bahwa penyuntikan dilakukan menggunakan Penstrep-400 dan injectamin sudah berlangsung sekira satu bulan belakangan. Setiap hari penyuntikan dilakukan oleh peternak untuk menjaga Kesehatan hewan ternaknya. 

Para peternak berharap, pemerintah bisa segera menemukan vaksin dan dibagikan kepada mereka. Supaya penyebaran PMK tidak terus terjadi. Yang itu juga sangat merugikan peternak. 

Data di Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) Sidoarjo Sidoarjo menyebut, di Sidoarjo total ada 744 sapi yang telah terdampak. Sebanyak 14 sapi dilaporkan mati dan 18 sapi dipotong paksa.
Kendati demikian, pemerintah mengimbau kepada masyarakat agar tidak terlalu khawatir terkait penyakit mulut dan kaki.

Peternak juka diminta agar tidak panik selling atau sibuk menjual semua ternaknya. Di Sidoarjo, angka kematian hewan akibat PMK terbilang masih rendah.

“Meski tingkat infeksiusnya tinggi namun tingkat kematian hewan yang terjangkit PMK masih tergolong rendah, hanya sekira 1,5 persen,” kata Sub Koordinator Kesehatan Hewan Fungsional Medik Veteriner Muda Dispaperta Sidoarjo, drh Rina Vitriasari,.

Rina menyebut bahwa pihaknya telah melakukan tindakan pengobatan secara Simptomatis. Serta melakukan komunikasi Informasi Edukasi (KIE) tentang penyakit ini bahwa penyakit ini bukan penyakit zoonosis atau penyakit ini tidak menular ke manusia.

Tak hanya itu, pihaknya juga memastikan bahwa daging sapi yang harus dipotong paksa karena telah positif terdampak PMK tersebut masih bisa dikonsumsi.

Dagingnya pun masih aman di konsumsi asal dengan proses memasak yang sesuai. Jadi apabila ada indikasi PMK dan terpaksa harus dipotong, maka kita arahkan ke RPH, tidak boleh dipotong sendiri,” sebutnya.

Para peternak diimbau agar cepat melapor jika menemukan gejala awal terhadap hewan ternaknya. Gejala itu seperti demam dan sapi tidak mau makan. “Segera lapor agar cepat kami tangani dan cepat sembuh,” terangnya.

Sementara gejala yang sudah parah adalah muncul luka seperti sariawan pada hewan ternak, mengeluarkan lendir, hingga kepincangan. Jika penanganan baik, tingkat kematian atas wabah itu terbilang rendah.

Mangsa dari wabah ini adalah hewan berkuku belah seperti sapi, kerbau, kambing, hingga babi. Para peternak diimbau untuk terus menjaga kebersihan kandang. Selain itu juga meminimalisir arus interaksi antarhewan.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved