Satu Abad Nahdlatul Ulama

Kader IPNU Jombang Meninggal saat Hadir Harlah Satu Abad NU di GOR Sidoarjo, Sempat Mengeluh Hal ini

Kabar duka itu tersebar sejak pukul 17.00 WIB. Imam Suhrowardi menghembuskan nafas terakhir sekira pukul 12.30 WIB.

Penulis: Tony Hermawan | Editor: Aqwamit Torik
Istimewa
Imam Suhrowardi Kader IPNU Jombang yang meninggal saat menghadiri Harlah 1 Abad NU di Sidoarjo 

TRIBUNMADURA.COM, SIDOARJO - Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Imam Suhrowardi seorang Kader IPNU Jombang tutup usia, Selasa (7/2).

Sebelum wafat almarhum sempat menghadiri Harlah 1 Abad NU di Sidoarjo.

Kabar duka itu tersebar sejak pukul 17.00 WIB. Imam Suhrowardi menghembuskan nafas terakhir sekira pukul 12.30 WIB.

Pemuda yang lahir 1 Januari 2021 ini wafat di usia 22 tahun.

Baca juga: Peringatan 1 Abad NU: Sejarah Nahdlatul Ulama dan Tokoh Ulama, KH Hasyim Asyari hingga KH Mas Alwi

Informasi lengkap dan menarik lainnya di GoogleNews TribunMadura.com

Informasinya, kronologi semula almarhum berangkat dari Jombang ke Gor Sidoarjo bersama temannya, Teguh pada tanggal 6 Januari sekira pukul 20.10 WIB.

Di tengah perjalanan almarhum sempat mengatakan ke temannya kalau badannya terasa kurang fit.

Mereka sampai di Sidoarjo setelah menempuh perjalanan selama 2 jam.

Teguh kemudian mengajak singgah di rumah saudaranya.

Letaknya di Desa Ketegan, Kecamatan Tanggul Angin.

Barulah mereka datang menghadiri acara Harlah NU 1 Abad tanggal 7 Januari sekira pukul 4 pagi.

Namun, baru dua jam di lokasi itu, almarhum mengajak Teguh untuk istirahat lagi di Tanggul Angin.

Pukul 11.30 WIB, almarhum kemudian pergi ke musalah terdekat untuk melaksanakan Salat Dhuhur berjamah.

Nah, saat itu, almarhum jatuh lemas saat di rakaat kedua.

Semua jamaah pun kaget. Diantarlah almarhum ke Klinik Umum & Bersalin Bunda di kawasan Tanggulangin.

Pukul  12.30 WIB, Imam Suhrowadi dinyatakan meninggal dunia.

Fenny Apridawati Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo mengatakan, almarhum setelah dinyatakan wafat dari tim medis di Tanggulangin, korban dirujuk kemudian RSI Siti Hajar Sidoarjo.

Di rumah sakit Imam benar-benar dinyatakan meninggal dunia. 

"Akhirnya kabar duka ini kami sampaikan kepada Kadinkes Jombang,” katanya.

Kabar duka tersebut pun kemudian sampai ke keluarga almarhum.

Almarhum merupakan warga asal Dusun Mojogeneng, Desa  Gedangan, Kecamatan Mojowarno.

Pukul 16.00 akhirnya almarhum diantar rumah duka.

Sejarah Nahdlatul Ulama

Nahdlatul Ulama tahun ini memasuki usia 100 tahun atau 1 abad apabila dihitung menurut penanggalan Hijriyah.

Mungkin sebagian dari Anda belum mengetahui sejarah berdirinya NU.

Siapa saja tokoh ulama NU dan latar belakang serta tujuan berdirinya NU?

Hingga berusia 1 abad, Nahdlatul Ulama (NU) masih dikenal masyarakat sebagai sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Nahdlatul Ulama (NU) diketahui berdiri pada 31 Januari 1926 M atau bertepatan dengan 16 Rajab 1344 H.

Sejak awal berdirinya hingga saat ini, kontribusi Nahdlatul Ulama (NU) dalam pembangunan juga selalu terlihat dari waktu ke waktu.

Peran NU di berbagai bidang kehidupan termasuk keterlibatannya di ranah politik membuat makin dikenal dan diperhitungkan.

Simak sejarah singkat berdirinya organisasi ini.

Latar Belakang Berdirinya Nahdlatul Ulama (NU)

Melansir laman NU Online, para ulama pesantren Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) mendirikan jam'iyah atau organisasi NU di kediaman KH Abdul Wahab Chasbullah di Kertopaten.

Sebelumnya, KH Wahab Chasbullah juga pernah telah mendirikan organisasi pergerakan Nahdlatul Wathon atau Kebangkitan Tanah Air pada 1916.

Kemudian beliau juga mendirikan Nahdlatut Tujjar atau Kebangkitan Saudagar pada 1918.

Kemudian pada tahun 1914 didirikanlah kelompok diskusi Tashwirul Afkar atau kawah candradimuka pemikiran yang juga disebut sebagai Nahdlatul Fikr atau kebangkitan pemikiran.

Pada saat mendirikan NU, para kiai juga mendiskusikan nama organisasi yang akan digunakan.

Serupa dengan nama kelompok sebelumnya, tersebutlah usulan nama Nuhudlul Ulama yang berarti kebangkitan ulama.

Namun, KH Mas Alwi Abdul Aziz kemudian mengusulkan nama Nahdlatul Ulama.

Alasannya, konsekuensi penggunaan kata nahdlatul adalah kebangkitan yang telah terangkai sejak berabad-abad lalu.

Hal ini mengingat bahwa Nahdlatul Ulama bukanlah hasil yang tiba-tiba mengingat ulama Aswaja memiliki sanad keilmuan dan perjuangan sama dengan ulama-ulama sebelumnya.

Hal inilah yang kemudian membuat organisasi NU sebagai kelanjutan dari komunitas dan organisasi-organisasi yang telah berdiri sebelumnya, dengan cakupan dan segmen yang lebih luas.

Tokoh yang Terlibat dalam Berdirinya Nahdlatul Ulama (NU)

Pada hari bersejarah itu beberapa tokoh terlibat dalam pendirian organisasi NU antara lain:

KH Hasyim Asy’ari Tebuireng (Jombang, Jawa Timur)
KH Abdul Wahab Chasbullah (Tambakberas, Jombang, Jawa Timur)
KH Bishri Syansuri (Jombang, Jawa Timur)
KH Asnawi (Kudus, Jawa Tengah)
KH Nawawi (Pasuruan, Jawa Timur)
KH Ridwan (Semarang, Jawa Tengah) KH Maksum (Lasem, Jawa Tengah)
KH Nahrawi (Malang, Jawa Tengah)
H. Ndoro Munthaha (Menantu KH Khalil) (Bangkalan, Madura)
KH Abdul Hamid Faqih (Sedayu, Gresik, Jawa Timur)
KH Abdul Halim Leuwimunding (Cirebon, Jawa Barat)
KH Ridwan Abdullah (Jawa Timur)
KH Mas Alwi (Jawa Timur)
KH Abdullah Ubaid dari (Surabaya, Jawa Timur)
Syekh Ahmad Ghana’im Al Misri (Mesir)

Adapun beberapa ulama lainnya yang juga hadir pada saat itu tak sempat tercatat namanya.

Substansi Berdirinya Nahdlatul Ulama (NU)

Melansir laman Gramedia, berdirinya Nahdlatul Ulama tidak dapat dipisahkan dengan dukungan ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma (keputusan ulama terdahulu).

Menurut K.H. Mustofa Bisri hal memiliki tiga substansi di dalamnya, yaitu:

1. Syariat Islam: sesuai dengan salah satu ajaran dari empat Madzhab (Hanafi, Maliki, Syafiy, Hanbali).

2. Perspektif tauhid (ketuhanan): mengikuti ajaran Imam Abu Hasan Almaty Ali dan Imam Abu Mansur Al Maturidi

3.Dasar-dasar Imam Abu Qosim Al Junaidi di bidang tasawuf

Proses mengintegrasikan ide-ide Sunni berkembang.

Cara berpikir Sunni di bidang ketuhanan bersifat eklektik: memilih pendapat yang benar.

Hasan al-Bashri seorang tokoh Sunni terkemuka dalam masalah Qodariyah dan Qadariyah mengenai personel, memilih pandangan Qadariyah.

Pendapat bahwa pelaku adalah kufur dan hanya keyakinannya yang masih tersisa (fasiq).

Apa ide yang dikembangkan oleh Hasan AL Basri Belakangan justru direduksi menjadi gagasan Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Tujuan Berdirinya Nahdlatul Ulama (NU)

Organisasi ini lantas berkembang ke sejumlah kota di Indonesia dengan berpegang pada beberapa tujuan.

Melansir laman Antara, dalam AD/ART NU tercantum bahwa tujuan NU adalah untuk menjaga berlakunya ajaran Islam yang menganut paham ahlussunnah wal jamaah (aswaja).

Lebih lanjut, Nahdlatul Ulama (NU) juga bertujuan untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang berkeadilan demi kemaslahatan dan kesejahteraan umat dan demi terciptanya rahmat bagi semesta alam.

Hingga 96 tahun berdirinya NU, organisasi ini telah berkembang pesat dengan jejaring anggota dan pengurus yang tersebar di seluruh wilayah Tanah Air.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved