Berita Madura
Aktivis NU Tanggapi Sultan Hamengkubuwono X Soal Kerajaan Mataram di Bawah Khilafah Turki Utsmani
Firman Syah Ali mengungkapkan rasa syukur karena akhirnya Sri Sultan menjawab apa yang selama ini menjadi uneg-unegnya dan uneg-uneg banyak orang.
Penulis: Kuswanto Ferdian | Editor: Aqwamit Torik
Namun Mehmed II waktu itu hanya Kaisar, belum Khalifah.
"Sebab Khilafah Umat Islam sedunia waktu itu masih Keluarga Abbasiyah yang bertahta di Cairo di bawah protektorat Dinasti Turki Mameluk," lanjut Pengurus Harian LP Ma'arif NU Jawa Timur ini.
Cak Firman juga menjelaskan, keluarga Utsmaniyah di Konstantinopel baru menjadi Khalifah Umat Islam Sedunia pada tahun 1517, yaitu saat Kaisar Selim I yang berhasil menaklukkan Turki Mameluk di Cairo.
Dengan takluknya Turki Mameluk kepada Turki Ottoman ini maka tanah suci Mekkah dan Madinah jatuh ke tangan Ottoman, dan yang jauh lebih penting, Khalifah Umat Islam Sedunia, Al-Mutawakkil III jatuh ke tangan Ottoman.
"Nah disinilah peristiwa besar sejarah terjadi, Khalifah terakhir Abbasiyah menyerahkan gelar Khalifah, pedang Rasulullah dan jubah Rasulullah kepada Kaisar Selim III di konstantinopel," jelas dia.
"Dan beberapa saat setelah penyerahan tersebut, Khalifah terakhir Abbasiyah Al-Mutawakkil III mati secara misterius. Sejak saat itulah kaisar-kaisar Ottoman menyebut dirinya sebagai Khalifah dan khodimul haramain, serta mengesahkan dan melantik sultan-sultan bawahan. Kalau Demak berdiri 1479, sedangkan Ottoman menjadi Khilafah pada tahun 1517, maka tidak masuk akal Demak disahkan dan dilantik oleh Ottoman," sambung Ketua Umum Indonesia Karate Do (INKADO) Jawa Timur ini.
Pendapat Cak Firman, Filolog UIN Syarif Hidayatullah Oman Fathurahman menyatakan bahwa berdasarkan sumber-sumber sejarah primer di arsip turki tidak ada bukti bahwa kerajaan-kerajaan islam nusantara selain Aceh merupakan vazal atau bawahan ottoman.
Kata dia, kalau hanya terpengaruh kebesaran ottoman sangat mungkin, itupun tentu setelah tahun 1517.
"Lagipula Demak memakai gelar Sultan baru pada era Raja Ketiga, yaitu Raja Trenggana. Raja Trenggana menggelari dirinya sebagai Sultan setelah mendengar kehebatan Ottoman dari Fatahillah. Fatahillah yang menganjurkan agar Panembahan Trenggana menggelari dirinya Sultan. Pemerintahan Trenggana memang bersamaan dengan masa pemerintahan Khalifah Selim I di Turki Ottoman, namun tidak ada bukti bahwa Trenggana merupakan bawahan Turki Ottoman," pungkas tokoh olahraga Jawa Timur ini.
Transportasi Murah Meriah Trans Jatim Surabaya-Madura, Bayar Rp 5 Ribu Bisa Nikmati Fasilitas Nyaman |
![]() |
---|
Sudah Ada TransJatim, Warga Madura Ternyata Masih Suka Naik Bus Rute Jauh |
![]() |
---|
Kronologi Meninggalnya Warga Madura di Gurun Pasir saat Ingin Naik Haji Secara Ilegal |
![]() |
---|
Kunjungi Kangean, Kementerian Kelautan dan Perikanan Survei Budidaya Lobster Milik PT Balad Grup |
![]() |
---|
Bangkalan Larang Kelulusan SD-SMA Pakai Toga, Cukup Tasyakuran, Ikuti Gebrakan Gubernur Dedi Mulyadi |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.