Breaking News:

Dihuni 1.200 Warga Binaan, Lapas Kelas II A Pamekasan Over Kapasitas

Jumlah warga binaan yang menghuni Lapas Kelas II-A Pamekasan, mulai dari narapidana dan tahanan titipan melebihi kapasitas hingga 100 persen.

TRIBUNMADURA.COM/MUCHSIN RASJID
Kalapas Kelas II-A, Pamekasan, M Hanafi, berseragam menghadap kamera, saat berada di halaman di depan pintu masuk Lapas Kelas II-A, Pamekasan. 

TRIBUNMADURA.COM, PAMEKASAN – Jumlah warga binaan yang menghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II-A Pamekasan, mulai dari narapidana dan tahanan titipan melebihi kapasitas hingga 100 persen.

Sesuai standarisasi, Lapas Kelas II-A Pamekasan, yang dibangun 1912 lalu terdiri dari lima blok, isinya sebanyak 600 orang.

Tapi saat ini jumlah mereka (warga binaan.Red) naik dua kali lipat, yakni mencapai sebanyak 1.200 orang.

Kalapas Kelas II-A, Pamekasan, M Hanafi, mengatakan, meski lapas yang dipimpinnya ini merupakan lapas umum, namun sebanyak 80 persen penghuni tersangkut kasus narkoba.

Perampokan Sadis Nenek 73 Tahun di Surabaya, Pelaku Benturkan Kepala & Injak Korban hingga Berdarah

UPDATE Terbaru Polrestabes Surabaya Identifikasi Pelaku Rampok Nenek di Rumahnya, CCTV Jadi Bukti

 

Diduga Digorok Perampok di Rumah yang Kerap Kosong, Nenek 73 Tahun Biasanya Tinggal di Rumah Menantu

Tingginya jumlah penghuni dari kasus narkoba ini, selain jumlah kasus narkoba di Pamekasan juga meningkat, juga napi narkoba yang menghuni di lapas ini kiriman dari lapas di sejumlah daerah di Jawa Timur.

Selain, pribumi juga terdapat napi nakorba warga negara asing, yakni Singapura, Taiwan dan Singapura.

Diakui, dengak kelebihan penghuni lapas ini membawa dampak terhadap petugas lapas.

Pengawasan terhadap seluruh napi dan tahanan bertambah lebih diperketat, karena rawan terjadi konflik antar napi. Selain itu, anggaran untuk biaya makan napi ikut membengkak.

Bahkan 2019 lalu lapas ini punya hutang Rp 3,5 miliar kepada pihak ketiga. Namun hutang itu sudah dibayar lunas  oleh pemerintah pusat.

Menurut M Hanafi, karena rawan konflik, pihaknya dalam menangani setiap permasalahan yang terjadi pada warga binaan, pihaknya harus betul-betul objektif dan adil. 

Sebab beda dengan menangani persoalan kebijakan yang berhubungan dengan kertas. Kertas dimasukkan ke dalam laci, tidak ada yang tahu.

Tetapi yang ditangani ini manusia, tidak berlaku adil, mereka tahu dan berteriak. Sehingga hal ini harus kita antisipasi.

Wagub NTT Josef Nae Soi Sebut Daun Kelor Ampuh Tangkal Virus Corona: Tidak Perlu Takut

“Di sini bila di antara mereka diperlakukan tidak adil, mereka bnerteriak. Karena mereka di sini senasib dan sepenanggungan. Karena itu, bukan berarti konflik di dalam lapas itu tidak terselesaikan, tapi kami sebagai yang dituakan, selalu memberi arahan kepada petugas lapas, dalam menangani perselisihan, harus sabar dan adil. Jika memang salah harus ditindak,” ungkap Hanafi saat ditemui TribunMadura.com, Kamis (5/3/2020).

Untuk menanggulangi kelebihan kapasitas jumlah warga binaan, setidaknya menekan angka kejahatan.

Selain itu, ia mengusulkan ke pemerintah pusat, agar Lapas Kelas II-A Pamekasan yang kini sudah menyandang Lapas Medium Scurity, hanya digunakan untuk narapidana saja. Sedang untuk tahanan dibangun khusus rumah tahanan.

Lapas Medium Scurity yang dimaksud yakni, lapas ini boleh membina napi yang sudah menjalani hukuman di atas 2/3 dari masa tahanan untuk dipekerjakan di luar di sekitar lapas.

Tujuannya adalah agar mereka dipekerjakan di luar sebelum dibebaskan, mengenalkan kepada mereka kepada masyarakat dan mereka diterima kembali di tengah-tengah masyarakat.

Telat atau Tak Lapor SPT, Wajib Pajak Pribadi Maupun Badan Akan Kena Denda, Ini Jumlahnya!

Disinggung tentang napi warga negara asing, Hanafi mengatakan, perlakuan terhadap napi warga negara asing ini beda, tapi tidak diistimewakan. “Sejak kasus virus korona ini merebak, maka untuk tamu dan keluarga napi asing itu, bila menjenguk nanti mereka harus mengenakan masker dan diperiksa lebih dulu oleh dokter di klinik lapas,” papar Hanafi.

Penulis: Muchsin Rasjid
Editor: Elma Gloria Stevani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved