Berita Surabaya

Harga Cabai Rawit Meroket, Pedagang Pasar Beralih Jualan Cabai Kering Karena Harganya Lebih Murah

Pedagang cabai memilih memasarkan cabai kering karena selisih harga yang mencapai 50 persen.

Penulis: Bobby Koloway | Editor: Ayu Mufidah Kartika Sari
TRIBUNMADURA.COM/FIKRI FIRMANSYAH
Tami (62) pedagang bumbu dapur yang berjualan di Pasar Wonokromo Surabaya, Kamis (25/2/21). 

Reporter: Bobby Koloway | Editor: Ayu Mufidah KS

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Warga Surabaya memanfaatkan cabai kering sebagai alternatif di tengah tingginya harga cabai rawit.

Banyak pedagang cabai di Surabaya yang memilih memasarkan cabai kering karena selisih harga yang mencapai 50 persen.

Baca juga: Dampak Harga Cabai Mahal, Produsen Sambal Pecel di Kota Blitar Batasi Produksi Agar Tak Merugi

Baca juga: Cabai Busuk Jadi Incaran Warga Tuban saat Harga Cabai Meroket, Perkilogram Dijual Rp 50 Ribu

Baca juga: Warga Lamongan Meninggal Digigit Ular, Jenazahnya Diantar Warga saat Banjir, Makamnya Kebanjiran

Pedagang Pasar Wonokromo, Nasibah menjelaskan bahwa harga cabai kering hanya Rp65 ribu perkilo.

Harga itu jauh di bawah harga cabai rawit segar yang mencapai Rp120 ribu perkilo.

"Ini kering Rp65 ribu perkilo. Harganya lebih murah, tapi dapatnya banyak soalnya ini kan kering," katanya, Selasa (16/3/2021).

Nasibah mengatakan, mengolah cabai kering tak terlalu berbeda jauh dengan cabai rawit segar.

"Baunya memang sedikit apek. Tapi bisa hilang dengan direbus," katanya.

Sekalipun memiliki alternatif, pihaknya tetap berharap harga cabai bisa kembali normal.

Baca juga: Bupati Pamekasan Minta Sekda Panggil Oknum ASN yang Diduga Adukan Rencana Pemotongan TPP ke NGO

Baca juga: Soal Kabar Presiden 3 Periode, Jokowi: Saya Tidak Ada Niat, Tidak Ada Juga Berminat

"Semoga bisa segera turun. Apalagi kan ini masih masa pandemi," katanya.

Dinas Perdagangan Kota Surabaya menargetkan harga cabai dapat kembali normal sebelum Ramadan mendatang.

Mencapai target tersebut, Disdag Surabaya terus melakukan sidak ke sejumlah pasar. Di antaranya, dengan menyasar Pasar Wonokromo, Selasa (16/3/2021).

"Kami melihat, di pasar Wonokromo ada empat jenis yang dijual di sini, cabai merah, cabai rawit, cabai keriting, cabai hijau/acar," kata Kepala Bidang Distribusi Dinas Perdagangan Kota Surabaya, Trio Wahyu Bowo ditemui seusai sidak.

Dari empat jenis cabai tersebut, hanya cabai rawit yang mengalami lonjakan cukup ekstrim.

"Untuk cabai rawit, kulakannya 110 ribu, dijual Rp120 ribu. Dari kulakannya saja sudah cukup tinggi," katanya.

Menurut Trio, tingginya harga cabai disebabkan dua hal. Pertama, karena tingginya curah hujan di awal tahun ini dan adanya penyakit.

Baca juga: Pilkades Serentak 2021 di Sampang Dikabarkan Ditunda hingga 2025, Begini Kata Sekda Yuliadi Setiawan

"Tingginya harga cabai ini karelna gagal panen akibat cuaca. Juga, penyakit cacar air," katanya.

Di luar itu, Trio mengungkapkan, pihaknya belum menemukan permainan harga di tingkat tengkulak. "

Dari harga petani sepertinya sudah tinggi akibat memang langka," katanya.

Selama ini, Surabaya mendapatkan suplai dari sejumlah daerah di Jawa Timur. Di antaranya, Probolinggo, Madura, Jember, Bondowoso, dan Lumajang.

Pihaknya menarget, harga cabai kembali normal sebelum Ramadhan mendatang.

Untuk itu, pihaknya terus mengintensifkan sidak pasar.

"Kami berharap menjelang Romadhon (akhir April) bisa kembali normal. Tentu, ini seiring dengan semakin baiknya cuaca," katanya.

Pihaknya juga menghimbau para pedagang untuk tidak mengambil laba terlalu besar.

"Kalau misalnya, harga kulakan Rp110 ribu, jualnya mungkin Rp116 ribu. Jangan sampai Rp120 ribu," katanya.

"Menekan harga ini tak bisa sendiri. Semua harus kerjasama, terutama dengan pedagang," katanya. (bob)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved