Ramadan 2022

Ayam Kuah Adhun, Menu Buka Puasa Legendaris Khas Madura yang Selalu Ditunggu Setiap Ramadan

Kelezatan menu legendaris, yakni ‘Ayam Kuah Adhun’ selalu dinanti untuk disajikan di kala waktu Berbuka Puasa

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Aqwamit Torik
TribunMadura.com/Ahmad Faisol
Annisa Agustina (27), warga Desa Jaddih, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan mempersiapkan segala kebutuhan sejak Kamis (21/4/2022) untuk menyajikan menu khas dan legendaris ‘Ayam Kuah Adhun’ pada setiap momen ‘Maleman Slekor’ atau malam ke-21 Ramadhan, Jumat (22/4/2022) 

TRIBUNMADURA.COM, BANGKALAN – ‘Maleman Slekor’ atau malam ke-21 setiap Ramadhan, Jumat (22/4/2022) menjadi momen paling ditunggu masyarakat Madura. Bukan hanya karena identik dengan nuansa penuh kekeluargaan.

Namun juga kelezatan menu legendaris, yakni ‘Ayam Kuah Adhun’ selalu dinanti untuk disajikan di kala waktu Berbuka Puasa.    

Kesibukan warga mulai dari menyembelih beberapa ekor ayam, meracik bumbu, hingga membuat beragam kue sudah tampak sejak H-1 momen ‘Maleman Slekor’, Kamis (21/4/2022). Aroma kelezatan dari ‘Ayam Kuah Adhun’ mulai merayap di relung-relung hidung begitu racikan aneka bumbu seperti pala, cengkeh, kemiri, merica, dan beragam rempah-rempah pilihan lainnya yang telah dihaluskan, mulai dimasukkan ke alat penggorengan.

“Bumbu khusus ‘Ayam Kuah Adhun’ harus dibiarkan semalam. Tidak bisa langsung dicampur dengan bahan-bahan lainnya seperti santan, atau ayam yang sudah dipanggang,” ungkap Annisa Agustina (27), warga Desa Jaddih, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, kepada Surya.

Menurut Anis, memasak ‘Ayam Kuah Adhun’ terbilang gampang-gampang susah. Seperti yang telah diajarkan para leluhurnya, ayam harus dipanggang terlebih dahulu tanpa bumbu agar lebih gurih. Kemudian ayam dipotong sesuai selera. Sementara, bumbu dan santan disiapkan dalam kuali.

Baca juga: Inilah Menu Takjil Khas Sumenep di Bulan Ramadan, Ada Putri Nyellem hingga Dadar Gulung Kenca

“Setelah itu masukkan ayam ke kuali yang sudah berisi santan bercampur bumbu, masak hingga sedikit kering. Meleset sedikit saja atau tidak sesuai tahapan, rasanya akan berbeda, tidak nyaman di lidah,” terangnya.

Uniknya, sulit menemukan menu ‘Ayam Kuah Adhun’ karena hingga kini belum ada warung makanan yang menjualnya. Masyarakat Madura hanya menyajikan menu ini pada momen-momen tertentu. Seperti ‘Maleman Slekor’, ‘Maleman Petolekor’ (Malam ke-27 Ramadhan), dan Lebaran.

Cara menyantapnya pun juga terbilang unik. Nasi dikepal dengan tangan hingga berbentuk bulatan lalu dicelupkan ke ‘Kuah Adhun’ yang sudah bercampur dengan ayam. Rasanya akan lebih nikmat apabila disajikan saat hangat. Apalagi dioleskan sambal khas, beberapa cabe yang hanya diulek dengan garam.     

“Menjadi aneh apabila pada momen-momen tersebut tidak ada menu ‘Ayam Kuah Adhun’. Hal yang sama juga dirasakan masyarakat Madura yang ada diperantauan,” jelas Anis.

Ia memaparkan, ‘Maleman Slekor’ di Bulan Ramadhan adalah tradisi turun temurun sejak dari nenek moyang. Masyarakat Islam di Madura mempersiapkan beraneka olahan makanan, salah satunya ‘Kuah Adhun’ dan beragam kue.

“’Maleman Slekor’ juga menjadi ajang saling tukar makanan antar tetangga, mempererat silaturahmi dan mendoakan para leluhur kami. Kami juga menyantap ‘Ayam Kuah Adhun’ kiriman tetangga,” pungkasnya. (edo/ahmad faisol)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved