Berita Bangkalan

Prediksi Puncak Kemarau di Bangkalan pada Pertengahan Agustus, BPBD Petakan 53 Desa Potensi Kering

Sehingga database tersebut digunakan BPBD Kabupaten Bangkalan sebagai dasar potensi awal wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan.

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Samsul Arifin
TRIBUNMADURA.COM/AHMAD FAISOL
Bupati Bangkalan, R Abdul Latif Amin Imron didampingi Kepala BPBD Rizal Morris mengecek kesiapan lima armada tangki pengangkut 25 ton liter air bersih sebelum diberangkatkan dari Pendapa Agung, Senin (26/7/2021) 

TRIBUNMADURA.COM, BANGKALAN – Kendati hujan tiba-tiba turun meski tengah memasuki masa peralihan musim dari penghujan ke kemarau, namun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bangkalan memprediksi puncak musim kemarau akan terjadi pada pertengahan Agustus 2022. Sedikitnya 53 desa di sembilan kecamatan berpotensi terdampak kekeringan.

 

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bangkalan, Rizal Morris mengungkapkan, puluhan desa terdampak kekeringan tersebut berdasarkan data realisasi droping air bersih di tahun 2021. Sehingga database tersebut digunakan BPBD Kabupaten Bangkalan sebagai dasar potensi awal wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan.

 

“Tetapi semoga saja jumlah desa terdampak kekeringan tahun ini bisa berkurang. Kami akan berkoordinasi kembali dengan seluruh camat untuk memastikannya,” ungkap Rizal kepada Surya, Minggu (24/7/2022).

 

Tahun lalu atau tepatnya pada 24 Juli 2021, peringatan dini disampaikan BMKG bahwa Kabupaten Bangkalan memasuki kondisi Kekeringan Meteorologis. Di mana kondisi kering suatu daerah pada periode waktu tertentu yang disebabkan berkurangnya curah hujan atau karena musim kemarau yang panjang.

 

Kala itu, sejumlah 37 desa di enam kecamatan dilaporkan terdampak bencana kekeringan. Alarm kondisi Hari Tanpa Hujan (THT) langsung direspon Bupati Bangkalan, R Abdul Latif Amin Imron.

 

Sebagai langkah awal, Ra Latif kala itu dengan mengirimkan sebanyak 25 ton liter bantuan air bersih yang diangkut dengan 5 armada tangki berkapasitas masing-masing 5 ribu liter. Armada-armada tersebut diberangkatkan ke Kecamatan Galis, Klampis, dan Arosbaya.

 

Disinggung terkait masih terjadi curah hujan saat ini, Rizal menyatakan, penyebab perubahan kondisi cuaca saat ini karena aktifnya beberapa fenomena dinamika atmosfer skala global-regional yang cukup signifikan.

 

Meskipun saat ini sebagian besar wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau, lanjutnya, namun karena adanya fenomena-fenomena atmosfer tersebut memicu terjadinya cuaca yang berdampak masih turunnya hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Termasuk wilayah di Jawa Timur.

Baca juga: Potensi Pelanggaran Saat Pendaftaran Partai Politik Besar, Bawaslu Bangkalan Rapatkan Barisan

 

“Salah satu faktornya adalah fenomena La Nina yang pada Bulan Juli ini diidentifikasi masih cukup aktif dengan kategori lemah. Hujan yang hingga saat ini masih terjadi meskipun tengah memasuki peralihan musim dari penghujan ke kemarau memang sesuai dengan rilis BMKG,” pungkas Rizal.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved