Berita Terkini Sumenep
Dugaan Mafia BBM Subsidi Menguat di Sumenep, Barcode Nelayan Disalahgunakan
Dugaan praktik mafia Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di Kabupaten Sumenep kian mengemuka.
Penulis: Ali Hafidz Syahbana | Editor: Taufiq Rochman
Ringkasan Berita:
- DPD Tani Merdeka Indonesia (TMI) Sumenep mengungkap dugaan mafia BBM subsidi dengan modus penyalahgunaan barcode nelayan dan kelompok tani untuk membeli solar secara ilegal
- Solar subsidi diduga ditimbun lalu dijual kembali sebagai BBM industri, menyebabkan petani kesulitan mengoperasikan alsintan dan nelayan terancam tidak bisa melaut
- TMI mendesak APH, Pemkab Sumenep, dan Pertamina bertindak tegas, termasuk mengusut SPBU yang diduga terlibat dan mencabut izin jika terbukti menyelewengkan subsidi
Laporan Wartawan TribunMadura.com, Ali Hafidz Syahbana
TRIBUNMADURA.COM, SUMENEP - Dugaan praktik mafia Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di Kabupaten Sumenep kian mengemuka.
Modusnya disebut rapi, sistematis, dan disinyalir melibatkan banyak pihak, mulai dari pengguna barcode hingga oknum di tingkat distribusi.
Sorotan keras datang dari Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Tani Merdeka Indonesia (TMI) Kabupaten Sumenep.
Organisasi ini mengklaim menemukan indikasi kuat penyalahgunaan barcode BBM subsidi milik nelayan dan kelompok tani yang digunakan secara ilegal untuk membeli solar.
Sekretaris DPD TMI Sumenep, Wawan mengungkapkan bahwa hasil investigasi lapangan menunjukkan adanya penggunaan dua jenis barcode subsidi, yakni barcode nelayan dan barcode kelompok tani.
"Modusnya memakai dua rekomendasi. Barcode nelayan dan barcode kelompok tani. Dari mana barcode itu didapat, kami tidak tahu. Tapi yang jelas, praktik ini sangat merugikan petani dan nelayan," kata Wawan kepada TribunMadura.com, Kamis (22/1/2026).
Baca juga: Puluhan Motor Rusak Mendadak di Sumenep, Dealer Menduga BBM Tercampur Air
Ia mencontohkan kasus yang dialami salah satu ketua kelompok tani di sebuah desa di Sumenep.
Kelompok tersebut mengeluhkan jatah solar subsidi untuk kebutuhan alat mesin pertanian (alsintan) tiba-tiba dinyatakan habis.
Ironisnya, kelompok tani itu mengaku sama sekali tidak pernah melakukan pembelian solar.
"Ada indikasi solar sudah diambil atas nama kelompok tani. Padahal kelompoknya merasa tidak pernah membeli. Ini jelas janggal dan patut dicurigai," ungkapnya.
DPD TMI menduga, solar subsidi tersebut dibeli menggunakan barcode resmi, kemudian ditimbun di gudang tertentu sebelum dijual kembali dengan harga BBM industri demi meraup keuntungan besar.
Dampak praktik ini dirasakan langsung oleh petani dan nelayan.
Petani kesulitan mendapatkan solar untuk mengoperasikan alsintan, sementara nelayan juga terancam tidak bisa melaut akibat keterbatasan BBM.
"Kondisi ini ironis, di saat pemerintah pusat gencar mendorong swasembada pangan, justru petani di lapangan kesulitan solar," tegas Wawan.
| Sumenep Serius Garap Energi Terbarukan demi Kemandirian Daerah |
|
|---|
| Sarasehan BEM–Pemkab Sumenep: Merajut Perencanaan dari Dialog dan Gagasan Kritis |
|
|---|
| Warga Gili Iyang Sumenep Cemaskan Dampak Tumpahan Minyak CPO, Ikan hingga Kepiting Ditemukan Mati |
|
|---|
| Baru 81 Siswa, Pendamping PKH Kejar Target Sekolah Rakyat di Sumenep |
|
|---|
| Relawan SPPG di Talango Sumenep Dilatih Prinsip Keamanan Pangan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/madura/foto/bank/originals/Sekretaris-DPD-TMI-Kabupaten-Sumenep-Wawan.jpg)