Hikmah Ramadan
Melatih Diri untuk Diam dan Penjelasan Waktu Terbaik Berbicara
Satu di antara hikmah puasa ialah melatih diri untuk diam. Ada pepata kuno mengatakan: Diam adalah emas dan bicara adalah perak.
“Sesungguhnya dosa yang paling banyak dilakukan oleh anak cucu Adam adalah pada lidahnya.”
“Barangsiapa yang banyak bicara, banyak juga kekeliruannya. Barangsiapa yang banyak kekeliruannya, banyak juga dosanya. Barangsiapa yang banyak dosanya, maka nerakalah yang paling tepat tempatnya.”
Banyak lagi ayat dan hadis yang mengingatkan kita agar jangan mengumbar pembicaraan yang tidak perlu.
Baca juga: Sejarah Salat Tarawih, Dari Qiyam Ramadan hingga Disatukan di Masa Khalifah Umar
Kalangan sufi ada yang pernah mengatakan bahwa diam adalah keselamatan dan itulah yang esensial, sedangkan bicara adalah bukan esensial.
Orang-orang masih memperselisihkan, mana yang lebih utama antara diam dan bicara.
Namun, yang lebih tepat adalah masing-masing antara diam dan bicara memiliki keutamaan dibandingkan dengan yang lain tergantung pada situasi dan kondisinya.
Diam lebih utama dilakukan pada situasi dan kondisi tertentu, dan pada situasi lain, justru bicara lebih utama, tergantung situasi dan kondisi tentunya.
Namun perlu juga diingat tidak selamanya diam itu pilihan terbaik.
Adakalanya seseorang harus dan wajib biara, terutama menyuarakan kebenaran, sebagaimana sabda Nabi: “Katakanlah kebenaran itu meskipun pahit.”
Baca juga: Ramadan Menjadi Bulan Pertobatan, Simak Penjelasan Tentang Taubat Inabah dan Istijabah
Basyar al-Hafi pernah mengatakan: “Jika suatu pembicaraan membuatmu terkagum-kagum, maka sebaiknya anda diam saja. Dan jika diam justru membuatmu terkagum-kagum, maka sebaiknya anda angkat bicara.”
Hal senada juga disampaikan Lukman kepada putranya: “Jika bicara itu adalah perak, maka diam adalah emas. Sesungguhnya aku menyesali atas suatu ucapan berulang-ulang, namun aku tidak menyesali diam sekali pun. Abu Ali al-Daqqaq juga pernah berkomentar: “Barangsiapa diam dari kebenaran, maka dia adalah setan bisu.”
Dalam situasi lain, seseorang yang diminta untuk harus bicara, terutama jika pembiaraan itu mendatangkan maslahat dan mencegah mudharat.
Tantangan kita ialah bagaimana menjadikan diri kita bukan sebagai iblis cerewet atau iblis bisu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/madura/foto/bank/originals/Menteri-Agama-RI-Nasaruddin-Umar-di-Sutdio-Tribun-Network.jpg)