Virus Corona di Surabaya
115 Warga Kedung Baruk Surabaya dari Klaster Pabrik Rokok Isolasi & Belum Swab, Ini Kata Khofifah
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa turun langsung dalam menangani curhatan warga Kampung Tangguh Kedung Baruk Kota Surabaya.
Penulis: Fatimatuz Zahroh | Editor: Elma Gloria Stevani
TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa turun langsung dalam menangani curhatan warga kampung tangguh Kedung Baruk Kota Surabaya.
Pihaknya menyebut akan melakukan special treatment untuk menangani 115 orang warga Kelurahan Kedung Baruk yang tak kunjung mendapatkan swab padahal sudah dinyatakan reaktif versi rapid test Corona.
Mereka yang kini menjalani isolasi mandiri tersebut membutuhkan segera tes swab jika ada yang positif akan dibawa ke rumah sakit darurat yang sudah disiapkan Pemprov Jatim.
• UPDATE CORONA: Bertambah 3, Total Kasus Positif Covid-19 di Kabupaten Mojokerto Jadi 14 Orang
• Bocah 9 Tahun Jadi Pasien Positif Covid-19 Nomor 05 di Kota Mojokerto, Diduga Terpapar dari Ibunya
• Pedagang Pasar Sawahan Mojokerto Alami Gejala Batuk dan Demam, Dirujuk ke RS hingga Positif Covid-19
"Satu gang di kampung Kedung Baruk ada sebanyak 115 orang yang sudah dinyatakan reaktif dalam rapid test. Dan ada sebanyak 21 orang yang sudah diisolasi oleh Pemkot. Ini sudah harus dalam special treatmen, cepat di swab, insyallah besok rumah sakit darurat sudah bisa beroperasi," kata Khofifah Indar Parawansa, Rabu (20/5/2020).
Menurutnya dalam kondisi saat ini, isolasi mandiri harus dinomorduakan.
Yang utama adalah jika diswab positif maka harus dievakuasi.
Kalau positif covid-19 diharapkan ada treatmen yang lebih serius dan terukur.
Terlebih mereka ini adalah warga dampak penularan klaster pabrik rokok di Rungkut, yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih, dan lebih awal.
Tidak hanya itu, Khofifah Indar Parawansa juga turun tangan memberikan bantuan sembako pada warga kampung tangguh Kelurahan Kedung Baruk.
Diini hari tadi bantuan untuk dapur umum guna memberikan suplai makanan bagi warga yang sedang diisolasi sebanyak 115 orang.
Selama ini penyediaan permakanan di kampung tangguh Kelurahan Kedung Baruk dilakukan secara swadaya.
"Dini hari tadi sudah langsung dikirim dengan koordinasi langsung oleh Pak Sekda. Kita kirkmkan beras, telur, gula, untuk suplai dapur umunnya," kata Khofifah Indar Parawansa.
Sementara itu, sebagaimana yang telah diberikan sebelumnya, saat Gubernur Khofifah bersama Kapolda dan Pangdam V Brawijaya melakukan kunjungan ke kampung tangguh Jalan Kedung Baruk Kelurahan Kedung Baruk Kecamatan Rungkut, Selasa (19/5/2020), malam.
Khofifah Indar Parawansa sempat dicurhati oleh warga kampung yang ternyata sedang menghadapi masalah Covid-19 yang serius.
Pasalnya sebanyak 115 warga kampung Kedung Baruk tersebut hingga kini belum mendapatkan tes swab padahal sudah dinyatakan reaktif dalam rapid test.
Warga Kelurahan tersebut tak lain adalah klaster penularan covid-19 dari kasus sebelumnya yaitu klaster pabrik rokok di Kecamatan Rungkut.
• Gugus Tugas Covid-19 Mengaku Dihubungi Menkes Terawan, Tanya Alasan Kasus Kematian di Jatim Tinggi
• RS Darurat Covid-19 di Indrapura Siap Beroperasi, Sediakan 40 Kamar Pasien Gejala Ringan dan Sedang
• Nongkrong di Warkop dan Kafe, 640 KTP Pelanggar Disita saat PSBB Surabaya Raya, Satpol PP: Bandel
"Warga kampung kami sudah mendapatkan rapid test. Total ada sebanyak 136 orang warga kami yang dinyatakan reaktif rapid tes Corona. Sebanyak 25 orang sudah diisolasi di hotel yang difasilitasi Pemkot Surabaya, sisanya 115 masih menunggu swab, kami meminta ke pemkot tapi jawabnya masih diminta menunggu," kata Ketua LPMK Kedung Baruk Sugiono.
Lantaran jadwal swab yang tidak kunjung turun, warga setempat akhirnya melakukan isolasi mandiri pada 115 warganya yang sudah dinyatakan reaktif, sebagai antisipasi.
Ratusan warga tersebut diminta untuk tinggal di rumah dan juga tidak diperbolehkan untuk keluar-keluar rumah terlebih dahulu demi antisipasi jika ada dari mereka yang ternyata positif covid-19.
"Kami sudah mengajukan ke Pemkot terkait swab. Tapi kan dijawab harus menunggu. Mereka kami isolasi dulu di rumah masing-masing. Namun sekarang yang terjadi yang reaktif merasa dikucilkan sementara kanan kiri tetangga merasa terancam," tuturnya.