Berita Pamekasan
Curhatan Perawat Soal RSU Asyifa Husada Pamekasan Diteror, Jadi Tempat Penerima Order Fiktif Makanan
Rumah Sakit Umum (RSU) Asyifa Husada, Pamekasan, Madura, menjadi tempat yang sering diteror sebuah orderan fiktif makanan dari orang yang tak dikenal.
Penulis: Kuswanto Ferdian | Editor: Elma Gloria Stevani
Laporan Wartawan TribunMadura.com, Kuswanto Ferdian
TRIBUNMADURA.COM, PAMEKASAN - Rumah Sakit Umum (RSU) Asyifa Husada, Kabupaten Pamekasan, Madura, menjadi tempat yang sering diteror sebuah orderan fiktif makanan dari orang yang tak dikenal.
Pemesan makanan fiktif ini dalam sebuah chat yang ditunjukkan oleh Rahman, salah satu perawat RSU Asyifa Husada, tampak memesan sejumlah makanan ke salah satu rumah makan yang ada di Pamekasan melalui via WhatsApp.
Pesanan makanan yang diorder cukup banyak, mulai dari Pempek Lenjer, Pempek Kapal Selam, dan Pempek Jumbo.
• BREAKING NEWS - Pria Sumenep Ditemukan Tewas di Tengah Sawah, Darah Keluar dari Mulut dan Hidung
• Cegah Penularan Covid-19, Mahasiswa PMM UMM Lakukan Edukasi pada Warga di Desa Tanjung Pamekasan
• Modus Perampokan Pecah Kaca Mobil di Ponorogo, Pelaku Gondol Rp 170 Juta Saat Korban Makan Siang
Selain memesan makanan tersebut, pelaku juga sempat meminta tolong untuk mengisikan pulsa kepada pemilik rumah makan.
Pemilik pun dalam chat tersebut mengiyakan dan menanyakan kepada pelaku pemesan orderan fiktif makanan tersebut berapa nominal pulsa yang harus diisi.
Lalu si pelaku menjawab untuk diisikan pulsa sebanyak Rp 50 ribu untuk nomor dirinya, dan Rp 50 ribu lagi untuk nomor temannya.
Namun untuk pembayarannya, pelaku pemesan makanan fiktif ini akan membayar di RSU Asyifa Husada.
Kala itu, total pembayaran makanan yang dipesan oleh pelaku mulai dari makanan dan pulsa, berkisar Rp 216 ribu.
Tapi si pelaku dalam chat tersebut menjanjikan akan membayar lebih yaitu sebesar Rp 250 ribu.
Apesnya, setelah pengantar makanan sudah tiba di RSU Asyifa Husada, nomor WhatsApp pemesan makanan malah tidak aktif.
Begitu pula saat ditelepon.
Saat pengantar makanan mencoba menanyakan kepada petugas rumah sakit apakah ada nama perawat yang bersangkutan (yang memesan makanan melalui via WA) bekerja di sini?
Ternyata, petugas rumah sakit langsung menjawab tidak ada.
Kejadian orderan makanan fiktif ini tidak hanya terjadi sekali di RSU Asyifa Husada, melainkan sudah berkali-kali.
Dalam kasus orderan fiktif makanan ini, pelaku mengaku sebagai Perawat di Unit IGD RSU Asyifa Husada yang bernama Desty Wulan.
Perawat RSU Asyifa Husada Pamekasan, Rahman mengaku mengetahui adanya orderan fiktif makanan ini saat pihaknya bertugas.
• Kakek 75 Tahun di Pare Kediri Tewas Bunuh Diri di Belakang Rumah, Pertama Kali Ditemukan Cucunya
• VIRAL Alat Kelamin Bocah 4,5 Tahun Bengkak Disebut Disunat Genderuwo, Ini Penjelasan Sang Ibu
• Sarbumusi Mengadu ke Pemprov Jatim, Protes Ratusan Buruh Jadi Korban PHK Sepihak di Sidoarjo
Kala itu, kata dia, ada pengantar makanan yang datang ke RSU Asyifa Husada yang mencari nama perawat pemesan orderan fiktif makanan tersebut.
Pengantar makanan, sewaktu itu mengaku dari Rumah Makan Pempek Palembang.
Namun, saat pengantar makanan itu memberitahu siapa nama pemesan makanan fiktif ini, ternyata di rumah sakit itu tidak ada orang yang bersangkutan yang mengaku bekerja sebagai perawat.
"Saya waktu itu gak menalangi makanan yang sudah dipesan itu. Cuma sebagian teman-teman saya yang lain ada yang menalangi untuk dibeli," kata Rahman kepada TribunMadura.com, Selasa (11/8/2020).
Rahman juga menjelaskan, modus yang dilakukan pelaku untuk mengelabuhi korbannya agar tidak diketahui pemesan makanan fiktif, yaitu melalui pemesanan makanan dengan sistem Cash On Delivery (COD) atau bayar di lokasi pemesan.
Selain itu kata dia, berdasarkan laporan dari sejumlah korban yang mengaku kepada pihaknya, pelaku selalu menyuruh untuk mengisikan pulsa ketika di perjalanan melihat konter.
Namun, saat pengantar makanan tiba di lokasi, nomor WhatsApp pemilik rumah makan malah diblokir dan saat ditelepon nomornya juga tidak aktif.
"Semua tempat rumah makan yang menjadi korban dikenai modus yang sama. Jadi order makanan minta di PO lalu COD di RSU Asyifa Husada," ungkapnya.
"Semua korban saat melapor ke kami, si pelaku mengatasnamakan Desty Wulan. Selama saya kerja di Asyifa sekitar 9 tahun, tidak ada namanya Desty Wulan yang kerja di sini," sambung dia.
Rahman mengaku mengetahui kejadian penipuan orderan fiktif makanan ini baru pertama kali.
Namun saat pihaknya menulusuri ke rekan kerjanya yang lain, ternyata kejadian orderan fiktif makanan tersebut sudah seringkali terjadi di tempat kerjanya.
Bahkan, ada temannya yang tinggal di Jalan Bonorogo Pamekasan juga menjadi korban pengiriman orderan fiktif makanan tersebut dengan nomor WhatsApp dan modus yang sama.
"Kejadian ini baru pertama yang saya ketahui, cuma korbannya kemarin malam dan Minggu malam itu sudah ada 3 orang yang melapor ke sini," bebernya.
"Terus paginya itu ada juga yang ke RSU Asyifa 2 orang. Agak siangan lagi, ada yang datang dari Rumah Makan Pecel Blitar, terus agak siangan lagi dari Kebab. Korbannya sudah lumayan banyak," tambahnya.
Rahman merinci, berdasarkan laporan yang dirinya terima dari sejumlah korban, pelaku memesan makanan dengan orderan yang cukup banyak.
• Wabup Qosim Klaim Gresik Keluar dari Zona Merah, Angka Kesembuhan Meningkat Lebih dari 70 Persen
• MTQ ke XXIX di Pamekasan Resmi Dibuka, Wabup Rajae Berharap Tercipta Generasi Muda yang Cinta Quran
• Simpan Sabu dan 310 Butir Pil Koplo di Lemari Baju, Pemuda Asal Menganti Diringkus Polres Gresik
Mulai dari, empek-empek dengan total pembelian Rp 400 ribu lebih, pecel Blitar 10 bungkus, kebab 10 bungkus, dan juga dibarengi dengan minta tolong agar diisikan pulsa.
Menurut Rahman, peristiwa orderan fiktif makanan ini sudah masuk ranah penipuan, sebab tempat rumah makan yang dipesan oleh pelaku jelas dirugikan.
Ia meminta kepada pihak kepolisian agar bertindak untuk menelusuri dan melacak nomor pelaku agar tidak semakin banyak rumah makan yang menjadi korban.
"Kalau misal nanti ada korban yang melapor, pasti si pelaku ini diproses hukum, karena ada pencemaran nama baiknya dan jelas pemilik rumah makan pasti dirugikan," tutupnya.