Breaking News:

Berita Sampang

Petani Sampang Menjerit, Cabai Rawit Dihargai Rp 3.000 hingga 5.000 per Kg, Dispertan Bagikan Solusi

Petani cabai rawit di Sampang menjerit akibat harga jual yang anjlok. harga cabai rawit mencapai Rp40.000 per kilogram, kini hanya Rp 5.000.

TRIBUNMADURA.COM/HANGGARA PRATAMA
Plt. Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Sampang, Suyono. 

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Hanggara Pratama

TRIBUNMADURA.COM, SAMPANG - Petani cabai rawit di Kabupaten Sampang, Pulau Madura, Jawa Timur (Jatim) menjerit akibat harga jual yang anjlok.

Bila di periode yang sama tahun lalu, harga cabai rawit mencapai Rp40.000 per kilogram, kini hanya Rp 3.000 hingga Rp 5.000.

Kondisi ini dialami petani cabai rawit di Kabupaten Sampang, Madura.

Kapolres Pamekasan Kunjungi Kantor Pengadilan Negeri, Jalin Kerjasama Jaga Kamtibmas yang Kondusif

Cek Sekarang! Subsidi Gaji BLT BPJS Ketenagakerjaan Tahap 3 Sudah Cair Hari Ini Setelah Tertunda

Beredar Kabar Soal Jadwal Operasi Penegakan Protokol Kesehatan di Kota Malang, Sutiaji: Itu Hoaks

Pantauan TribunMadura.com, anjloknya harga cabai rawit di Kabupaten Sampang, Madura disebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan masyarakat dengan persediaan hasil tani yang membludak lantaran masuk di puncak musim panen.

Para pedagang atau pengkulak menjual cabai rawit di pasaran dengan harga murah karena dikhawatirkan membusuk dan terbuang percuma.

Mengetahui hal itu, dampak besar diterima oleh petani cabai rawit di Kota Bahari sebab, mereka mengalami kerugian karena harga jual hasil taninya tidak sebanding dengan biaya operasional, mulai dari penanaman hingga panen.

Menanggapi hal itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Sampang, Suyono mengatakan bahwa solusi bagi para petani menyikapi peristiwa tersebut memang harus tanggap melihat kondisi harga dipasaran.

Seperti, memiliki pemilihan penanaman pohon lain sehingga, jika sudah mengetahui waktu harga cabai akan murah, petani menanam tanaman lainnya, buah melon, semangka atau sayur-sayuran sesuai kondisi tanah.

"Saat ini sosialisasinya sedang berjalan terhadap setiap kelompok tani di Sampang, sehingga ketika di daerah tertentu teksturnya pekerja air yang cukup kita arahkan untuk menanam yang lain contohnya bawang merah karna umurnya hanya 50 hari," ujarnya kepada TribunMadura.com, Rabu (16/9/2020).

"Kita juga berupaya memberikan pemahaman agar mereka menanam dengan perkiraan harga contohnya, oh nanti dari pada harga jatuh tanaman ini saja yang dikembangkan," imbuh Suyono.

Angka Pernikahan Usia Dini Naik Dua Kali Lipar di Kabupaten Ponorogo Selama Pandemi Covid-19

Pemutihan Denda Keterlambatan Pajak Kendaraan Diminati Warga Jawa Timur di Tengah Pandemi Covid-19

Aksi Turun Jalan Ribuan Driver Ojek Online Membuahkan Hasil Kesepakatan dengan Pemerintah

Ia menambahkan, Jika sudah terlanjur seperti saat ini para petani bisa menjual hasil taninya tidak dalam kondisi basah melainkan, dikeringkan terlebih dahulu, mencari produksi agar ada pelarian.

"Ketika murah inilah yang harus dihadapi oleh para petani agar produk unggulannya dapat ditepungkan," ucapnya.

Lebih lanjut, pihaknya juga mensosialisasikan terkait informasi harga dipasaran dan juga tata panennya.

"Terkait tata panennya misalnya harga mahal jatuh bulan agustus, berarti tiga bulan sebelumnya mereka diupayakan mulai menanam agar bisa panen di bulan Agustus," pungkasnya.

Penulis: Hanggara Pratama
Editor: Elma Gloria Stevani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved