Breaking News:

Berita Sumenep

Faktor Lingkungan, Ratusan Siswa di Sumenep Putus Sekolah, Disdik Lakukan Langkah Persuasif

Sedikitnya ada 238 siswa di Kabupaten Sumenep putus sekolah pada ajaran tahun 2020.

TRIBUNMADURA.COM/HANGGARA PRATAMA
ilustrasi - siswa saat pulang sekolah 

Reporter : Ali Hafidz Syahbana | Editor: Ayu Mufidah KS

TRIBUNMADURA.COM, SUMENEP - Ratusan siswa dari tingkat SD, MI, SMP dan MTs di Kabupaten Sumenep, Madura, putus sekolah.

Angka siswa Kabupaten Sumenep putus sekolah ini didapat sejak tahun 2020 lalu.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan Sumenep sedikitnya ada 238 siswa tercatat putus sekolah pada ajaran tahun 2020.

Baca juga: Gaet Wisatawan, Wisata Malang Halal Terus Dikembangkan, Upaya Pemkot dalam Pemulihan Ekonomi

Baca juga: Taman di Surabaya Kembali Dibuka Segera, 9 Lokasi Ini Siap Dikunjungi pada Tahap Awal Pembukaan

Rinciannya, jumlah siswa SD yang putus sekolah ada 47 siswa, Madrasah Ibtidaiyah (MI) ada 88 siswa, SMP 42 dan MTs sebanyak 61 siswa.

Sekretaris Dinas Pendidikan Sumenep, Muhammad Saidi mengatakan, alasan siswa ini putus sekolah bukanlah dari faktor ekonomi.

Kata dia, ratusan siswa ini putus sekolah kebanyakan dari faktor lingkungannya yang mengakibatkan siswa malas sekolah.

"Putus sekolah itu karena faktor lingkungan," kata Muhammad Saidi pada Senin (5/4/2021).

Sebab untuk saat ini katanya, masing-masing lembaga sekolah itu sudah ada Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan tidak mungkin beralasan karena biaya.

Sehingga lanjutnya, pihak sekolah di bawah naungan Disdik Sumenep perlu melakukan pendekatan secara persuasif terhadap siswa yang putus sekolah.

Baca juga: Rumah Dinas Wali Kota Malang Dapat Teror, Dilempari Kertas dan Flare, Diduga Dilakukan Pihak ini

Tujuannya kata Muhammad Saidi, agar dapat kembali mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

"Bisa dengan mendatangi mereka kan, karena pendidikan itu sangat penting untuk masa depan mereka (siswa)," tuturnya.

Lalu bagaimana solusinya kedepan bagi siswa yang tidak dapat melanjutkan melalui pendidikan formal, menurutnya hal itu bisa dilakukan melalui pendidikan non formal (paket).

"Kan ada paket A, B dan C dan itu juga dalam pantauan dinas pendidikan," katanya.

Penulis: Ali Hafidz Syahbana
Editor: Ayu Mufidah Kartika Sari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved