Breaking News:

Berita Sumenep

Ibnu Hajar Mundur Dari 22 Besar Calon Pengurus DPKS, Guru Bupati Sumenep ini Singgung Soal Marwah

Guru Bupati Sumenep, Achmad Fauzi pada tahun 1997 - 1998 di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Sumenep ini mengaku keputusan pengunduran karena pertimbangan

Penulis: Ali Hafidz Syahbana | Editor: Aqwamit Torik
TribunMadura.com/Ali Hafidz Syahbana
Ibnu Hajar, tunjukkan surat pengunduran dirinya sebagai calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep (DPKS) periode 2021-2026, Rabu (1/12/2021). 

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Ali Hafidz Syahbana

TRIBUNMADURA.COM, SUMENEP - Ibnu Hajar, sosok guru Bupati Sumenep ini mendadak mengundurkan diri dari calon anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep (DPKS) pada periode 2021-2026.

Pernyataan pengunduran diri Ibnu Hajar ini setelah dirinya lolos 22 besar sebagai calon anggota DPKS periode 2021-2026 berdasarkan hasil rapat tim seleksi uji kompetensi yang dilaksanakan pada tanggal 1-2 November 2021.

Guru Bupati Sumenep, Achmad Fauzi pada tahun 1997 - 1998 di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Sumenep ini mengaku, keputusan pengunduran dirinya sendiri itu sudah sesuai beberapa pertimbangan.

Selain banyaknya kesibukan dengan aktivitasnya, dan salah satunya juga demi menjaga marwah orang nomor satu di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep.

"Saya mengambil jalan tengah, demi menjaga marwah Bupati Sumenep (Achmad Fauzi) saya ikhlas memundurkan diri sebelum penentuan 11 besar," kata Ibnu Hajar kelahiran asli Sumenep, 7 Juli 1971 ini pada TribunMadura.com, Rabu (1/12/2021).

Baca juga: Penjelmaan Baru Jaringan Teroris Jamaah Islamiyah Diungkap Pakar Teroris, Terkuak Jalan Politiknya

Secara forlmal katanya, dirinya sudah melayangkan surat pengunduran diri ke- Pemkab Sumenep di Jalan Raya Dr. Cipto Kota Sumenep. 

"Secara formal saya sudah mengirimkan surat resmi untuk mengundurkan diri dengan alasan pertama dengan kesibukan saya dan kedua demi menjaga marwah bupati. Dengan demikian bupati bisa enjoy dan merdeka lah untuk menentukan 11 dari 22 yang sudah disaring oleh tim seleksi," tegas penulis puisi antologi "Tak Ada Cinta Buat Penyair" ini.

Ditanya soal memundurkan diri demi menjaga marwah Bupati Sumenep yang dimaksud katanya, jikalau Ibnu Hajar lulus, mungkin akan dikecam banyak pihak.

"Kalau saya lulus mungkin akan dikecam, maklum, itu (Ibnu Hajar) kan gurunya (Achmad Fauzi) waktu masi di MAN dulu. Dan kalau misalkan saya tidak lulus saya tidak tahu itu, indikator apa yang membuat saya tidak lulus. Nah dengan dua hal seperti inilah saya mengambil jalan tengah, saya mengalah dan ikhlas memundurkan diri," tegasnya.

Meskipun dirinya sudah menyatakan memundurkan diri, pihaknya berharap 11 orang nanti yang akan ditentukan oleh Bupati Sumenep bagaimana mereka benar-benar berkiprah didunia pendidikan Kabupaten Sumenep ini.

"Dan mudah-mudahan mereka nanti tida Offset, ada tim ahli pendidikan. Bupati kan punya tim ahli pendidikan, semntara DPKS itu kan mengikuti regulasi bahwa kabupaten kota harus ada dewan pendidikan," katanya.

"Sehingga kalau dua tim ini bergabung demi kemajuan pendidikan Sumenep, Insyaallah pendidikan di Kabupaten Sumenep akan bagus dan maju," ujar Ibnu Hajar.

Baca juga: Nasib Mbah Slamet Hidup Sebatang Kara di Gubuk Reyot, Sudah Empat Kali Menikah Tak Dikaruniai Anak

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved