Gerbang Keraton Parsanga Dirusak
Mengungkap Sejarah: Asal Usul Nama Desa Parsanga Sumenep, Berawal Dari 9 Sumur Buatan Sunan Paddusan
Parsanga merupakan sebuah Desa di Kecamatan Kota Sumenep, letaknya tak jauh dari alun-alun, sekitar dua kilometer ke arah timur utara.
Penulis: Ali Hafidz Syahbana | Editor: Elma Gloria Stevani
Laporan Wartawan TribunMadura.com, Ali Hafidz Syahbana
TRIBUNMADURA.COM, SUMENEP - Parsanga merupakan sebuah Desa di Kecamatan Kota Sumenep, letaknya tak jauh dari alun-alun, sekitar dua kilometer ke arah timur utara.
Masyarakat desa ini mempercayai, jika sebagai tempat kelahiran penamaan Desa Parsanga ini tidak lepas dari sembilan (9) sumur yang dibuat oleh Raden Bindara Dwiryapadha yang mempunyai julukan Sunan Paddusan dan menyebarkan agama Islam pada abat ke-15 atau sekitar tahun 1450 masehi di Sumenep.
Sunan Paddusan ini diketahui keturunan dari Haji Utsman atau Sunan Manyoran Mandalika (Lombok).
• Dinas PU Bina Marga Diharapkan Gandeng Tim Ahli Cagar Budaya Sumenep pada Pembangunan Infrastruktur
• PAN Sumenep: Kadar Ketokohan Dewi Khalifah Melampaui Dinamika Rekomendasi DPP Partai Hanura
• Tim Ahli Cagar Budaya Sumenep Mengingatkan Bekas Keraton Parsanga Sumenep Masih Ada: Jangan Dirusak

• Sayap Pintu Gerbang Keraton Parsanga Sumenep Dirusak, Ahli Cagar Budaya: Wajar Masyarakat Marah
• Sayap Pintu Gerbang Keraton Parsanga Dirusak, Pejabat PU Bina Marga Sumenep Sebut Kesalahan Pekerja
• Kepala Disparbudpora Sebut Perusak Pilar Pintu Gerbang Keraton Parsanga Sumenep Tidak Tahu Aturan
Bapak dari Sunan Manyoran Mandalika adalah Sunan Lembayung Fadal yang mempunyai nama asli Sayyid Ali Murtadha (Kakak kandung dari Sunan Ampel Surabaya/Sayyid Ali Rahmatullah).
Pada zamannya, Sunan Lembayung Fadal ini tersohor menyebarkan agama Islam di pulau Sapudi. Hingga saat ini, makamnya tetap dikeramatkan oleh warga kepulauan Sapudi.
Masyarakat di Pulau Sapudi biasa menyebutnya dengan Rato Pandita dan kuburannya saat ini disebut Asta Nyamplong.
Hasil penelusuran TribunMadura.com, Desa Parsanga berasal dari dua suku kata, yakni Paregi dan Sanga’.
Paregi artinya sumur, cerita yang masih tercatat di tempo dulu setiap warga yang membuat sumur akan diberi susunan batu yang ditata dari bawah mengelilingi dinding sumur tersebut hingga bibir sumur.
Tujuannya, sebagai penahan agar dinding tidak runtuh alias tanahnya berguguran.
Sementara penyebutan kata Sanga’ adalah angka sembilan yang menunjukkan jumlah dari sumur yang dibuat oleh Raden Bindara Dwiryapadha.
Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Sumenep, Tadjul Arifien R menyampaikan, dari penggabungan dua suku kata tersebut menjadi nama Desa Parsanga.
Menurut Tadjul Arifien R, pembuatan sembilan sumur tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan Raden Bindara Dwiryapadha dalam menyebarkan agama Islam di daerah tersebut.
Ia menuturkan, zaman itu bagi setiap orang yang akan masuk Islam, diharuskan melalui proses dimandikan dan baru berikrar dengan membaca dua kalimat syahadat kemudian diajarkan ilmu-ilmu agama.
• BREAKING NEWS - Mobil Sedan Terbakar di SPBU Sotaber Pamekasan, Berawal dari Pemilik Mengisi Bensin
• BREAKING NEWS - Sayap Pintu Gerbang Keraton Parsanga Sumenep Dirusak Pekerja Pembangunan Jalan
• Laju Penambahan Kasus Corona Jatim Jauh Melambat, Masker Turunkan Risiko Penularan hingga 60 Persen
"Warga Madura menyebut "Edudus" (dimandikan)," kata Tadjul Arifien R, Rabu (22/7/2020).