Berita Kediri

Derita Nenek Penjual Kacang di Kabupaten Kediri yang Lumpuh dan Tinggal Seorang Diri di Gubuk Reot

Mbah Karinah (80), seorang penjual kacang di Dusun Bolowono, Desa Wonokerto, Kabupaten Kediri mengalami kelumpuhan dantinggal di gubuk reot.

TRIBUNMADURA.COM/FARID MUKARROM
Mbah Karinah dan gubuknya di Desa Wonokerto, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Kamis (17/12/2020). 

TRIBUNMADURA.COM, KEDIRI - Mbah Karinah (80), seorang penjual kacang di Dusun Bolowono, Desa Wonokerto, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, mengalami kelumpuhan setelah kecelakaan yang pernah dialaminya. 

Kini, nenek sebatang kara ini tinggal di sebuah gubuk reot yang terbuat dari kayu.

Rohmah, tetangga Mbah Karinah, mengatakan perempuan renta tersebut sudah lama tinggal sendirian tanpa keluarga. Bahkan, rumah yang ditempatinya juga bukan tanah sendiri, melainkan lahan warga. 

"Setahu saya tempat yang ditinggali tanahnya ini bukan milik Mbah Karinah. Dulu beliau ini penjual kacang di pasar. Karena saat ini sakit jadi beliau di rumah saja," tuturnya Kamis (17/12/2020).

Baca juga: Diduga Palsukan Dokumen Izin Tinggal, WNA Asal Kanada Ditangkap Kantor Imigrasi Kelas I TPI Malang

Baca juga: Cara Daftar Prakerja Tahun 2021, Ikuti Tahapan dan Syarat Pendaftaran Gelombang 12 di prakerja.go.id

Baca juga: Akses https://eform.bri.co.id, Cek Penerima BLT UMKM hingga Cara Mencairkan Dana BPUM Rp 2,4 Juta

Baca juga: Kasus Positif Covid-19 di Ponorogo Tembus 1.016 Pasien, Kepala Dinas Kesehatan Ungkap Penyebabnya

Lanjut menjelaskan Rohmah bahwa sehari-hari yang membantu merawat Mbah Karina adalah tetetangga.

"Keluarganya tak ada yang mau mengurus bahkan kayak cuci baju dan makan, semua bergantian tetangga sini merawatnya," ujarnya.

Tak hanya itu Rohmah pernah mengajak Mbah Karina untuk tinggal bersamanya. Tapi Mbah Karinah menolak dengan alasan tak betah.

"Saya ajak tinggal sama saya karena bisa lebih mudah memantau. Tetapi Mbah Karinah pulang sendiri waktu itu meski kondisi sakit," katanya.

Saat ini kondisi kesehatan Mbah Karinah semakin memburuk. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 saat ini sangat rentan tertular penyakit.

"Terus terang kami kasihan sama beliau, karena tak mau dibawa ke rumah sakit. Mbah cuman mau dibuatkan minuman kayak jeruk nipis dan kecap buat ganti obat batuk gitu. Pokoknya apa yang diminta Mbah Karinah saya selalu ikuti," jelasnya.

Menurut Rohmah selama ini belum ada perhatian lebih kepada Mbah Karinah. Utamanya seperti membuat rumah yang layak huni.

Baca juga: Pelanggar Protokol Kesehatan yang Tak Pakai Masker di Kota Kediri Dihukum Menyapu Jalan

Baca juga: Machfud-Mujiaman Akan Gugat Hasil Pilkada Surabaya 2020 ke MK, PDIP Surabaya: Sebaiknya Legawa Saja

Baca juga: Zona Merah Covid-19 di Jawa Timur Bertambah, Khofifah Minta Warga Tak Rayakan Pesta Tahun Baru

Baca juga: Kalah di Pilkada Surabaya 2020, Machfud Arifin-Mujiaman Ajukan Gugatan ke MK, PSI: Perbuatan Sia-sia

"Rumah beliau itu sekitar 3x4 meter. Rumah itu hanya terdiri dari dapur dan tempat tidur tanpa fentilasi yang memadahi. Di rumahnya juga nyaris tidak ada benda berharga," tandasnya.

Untuk penerangan, terdapat satu bola lampu yang disalurkan dari rumah tetangga. 

Karena sudah sulit untuk bergerak, kini ia hanya tiduran. Tubuh ringkihnya juga dikenakan popok dewasa. 

Namun, karena terlalu lama kulitnya iritasi, sehingga kulitnya memerah dan rasanya perih.

Untuk mengatasi rasa perihnya, ia memiringkan tubuhnya. 

Sementara itu, Mbah Karinah juga masih bisa diajak komunikasi. Ia bahkan masih memahami saat diajak dialog.

Dirinya mengeluhkan batuk yang hingga kini belum sembuh.

"Batuk mau nyuwun digawekno jeruk nipis lan kecap (tadi minta dibuatkan jeruk nipis dicampur kecap)," kata Mbah Karinah.


  

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved