Breaking News:

Virus Corona di Jawa Timur

MUI Jatim Anjurkan Umat Islam Salat Idul Fitri 2020 di Masjid dengan Protokol Pencegahan Covid-19

MUI Jatim menganjurkan masyarakat melaksanakan salat Idul Fitri di tengah pandemi corona di wilayah PSBB dan menegakkan protokol pencegahan Covid-19.

TRIBUNMADURA.COM/SOFYAN ARIF CANDRA SAKTI
Suasana Salat Idul Fitri 1440 H di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya 

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menganjurkan masyarakat untuk tetap melaksanakan ibadah salat Idul Fitri di tengah pandemi virus corona ( Covid-19 ) dan masyarakat yang berada di wilayah PSBB dengan tetap menegakkan protokol pencegahan Covid-19.

Sekretaris MUI Jatim, Ainul Yaqin mengatakan MUI pusat juga sudah mengeluarkan imbauan tentang kegiatan Idul Fitri bahwasanya salat Idul Fitri bisa dilaksanakan di rumah, di mushola, di masjid sesuai dengan kondisi masing-masing daerah dengan menerapkan protokol pencegahan penyebaran Covid-19.

"Kami menganjurkan di masjid tetap dilaksanakan, tapi tidak usah di lapangan supaya lebih mudah pengendalian jamaahnya," kata Ainul Yaqin, Kamis (14/5/2020).

Jelang PSBB, Pengelola Pasar Kebalen Gambar Penerapan Ganjil Genap di Jalan Zaenal Zakze Kota Malang

Ini Aturan Berkendara PSBB di Malang Raya, Jumlah Penumpang Hanya 50 Persen dari Kapasitas Kendaraan

Aturan Pokok PSBB Malang Raya, Pasar Tradisional Masih Buka hingga Boleh Ibadah di Masjid

Menurut Ainul Yaqin, jika salat Idul Fitri dilaksanakan di masjid maka konsentrasi massa jamaah bisa terbagi di setiap masjid di masing-masing lingkungan.

Namun jika di lapangan, massa yang terkumpul akan lebih besar dan sulit untuk dikendalikan.

"Yang ikut salat semua diharuskan memakai masker. Nah kalau salat Idul Fitri di lapangan,  susah untuk memastikan kalau di masjid lebih gampang karena jamaahnya lebih kecil," lanjutnya.

Ainul Yaqin juga menganjurkan agar khutbah dalam pelaksanaan salat Idul Fitri diperpendek.

"Khutbah idul Fitri 10 menit saja tidak usah panjang-panjang," ucapnya.

"Jadi syiar tercapai, syariat ditegakkan, angka Covid-19 juga turun, sehingga semuanya akan kena. Setahun sekali Idul Fitri itu, kalau nunggu idul Fitri setahun lagi," lanjutnya.

Keputusan ini, lanjut Ainul juga didasarkan analisis kebijakan yang telah disusun oleh MUI untuk pelaksanaan ibadah secara umum di tengah pandemi Covid-19.

Sehingga bukan hanya berlaku untuk salat Idul Fitri saja, melainkan juga Salat Jumat, Salat Rawatib, maupun Tarawih serta ibadah lainnya.

Alat PCR Mekanis untuk Deteksi Covid-19 di RSUD Gambiran Kediri Hanya Butuh Waktu 45 Menit

Puluhan Warga Pinggirsari Alami Gejala Penyakit Chikungunya, Dinkes Tulungagung Lakukan Pengasapan

Jumlah Kasus Covid-19 di Tuban Bertambah Jadi 12 Orang, 1 PDP Meninggal dan Hasil Swab Belum Keluar

"Substansi nya orang komit dengan protokol Covid-19. Physical distancing, pakai masker, cuci tangan pakai sabun dan air yang mengalir. Kalau pakai masker kan supaya tidak ada droplet ke orang lain sebagai sarana penularan, sehingga kalau sudah pakai masker aman," kata Ainul Yaqin.

Dalam Analisis dan Evaluasi Penerapan Kebijakan pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Di Jawa Timur Terkait Dengan Kegiatan Di Rumah Ibadah Muslim MUI Jatim tersebut Ainul Yaqin membeberkan, bahwa dalam upaya pencegahan bahaya Covid-19 yang dikaitkan dengan penyelenggaraan kegiatan di Masjid/mushalla, mestilah dilakukan pemetaan yang jelas.

Sehingga jelas pula tingkat kedaruratanya ditinjau dari sudut pandang syari’at. Analisis sederhananya, jika kondisi bahaya itu sudah bisa diatasi dengan mengkarantina orang-orang tertentu, maka tidak perlu menghentikan semua kegiatan di masjid, sementara di sisi lain orang-orang masih banyak berlalu lalang di tempat keramaian tanpa dikendalikan.

Penulis: Sofyan Candra Arif Sakti
Editor: Elma Gloria Stevani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved